Batu: Sebuah Seni Kontemporer
- Muslim jaya Andesit

- 29 Jun 2020
- 2 menit membaca
Diperbarui: 30 Jul 2020
Farina Afrianty - Interior Designer

Nama ini awalnya tidak saya kenal, dan belum pernah mendengar juga sebelumnya. Namun, bagi mereka yang menyukai seni kontemporer, tempat ini menjadi oase yang unik dan berbeda dari tempat wisata lainnya di kota Bandung, Jawa Barat.
Walaupun berlokasi di Bandung, namun arti kata “Wot’ sendiri berasal dari Jawa, yang artinya Jembatan, dan makna dari kata ‘Jembatan’ ini memiliki arti yang lebih mendalam & filosofis yaitu ‘Jembatan Jiwa’ yang menggambarkan keseimbangan antara jiwa manusia dengan manifestasi fisik kehidupan, dan menjadi penghubung dari 4 elemen alam: bumi, air, api dan angin.
Adalah perupa Sunaryo yang membangunnya di tahun 2015. Bagi Sunaryo, Wot Batu merupakan monumen yang mengabadikan nilai. Materi batu dipilih karena sifatnya yang abadi. Karya ini merupakan hasil dari perjalanan spiritual Sunaryo sendiri.
Dalam ruang terbuka +/- 2000 M2, dengan 135 + 1 batu yang berasal dari abu vulkanik da nada juga batu yang diambiil dari Gua Hira. Batu – batu tersebut digunakan tanpa mengubah bentuk aslinya, dengan tujuan agar sifat dan karakteristik batu tersebut muncul.
Filosofi Batu

Saat tiba di lokasi Wot Batu, pengunjung akan melalui pintu gerbang berbentuk kanopi. Konsep yang ingin disampaikan dari kontur dan penataan batu ini adalah adanya konsep ‘pemisah’ antara dunia ‘Wot Batu’ dan dunia ‘luar’.
Memasuki Wot Batu, seperti memasuki dunia baru yang berbeda. Batu tinggi pada ‘Batu Abah Ambu”, memiliki makna hurug alif / huruf hijaiyah pertama.
Batu tunggi juga merefleksikan karakter laki-laki dan batu disebelahnya merefleksikan karakter perempuan.
Tidak jauh dari “Batu Abah Ambu, ada “Batu Merenung’. Batu ini memang dibuat Sunaryo untuk tempat merenung. Detail yang ditampilkan pada batu, benar - benar membuat seorang manusia bisa merasakan kenyamanan luar biasa.

Di area ini terdapat sebuah batu tersembunyi yang dinamai batu api yang memberi makna filosofis dimana batu api ini diartikan sebagai api pemberi aura keseimbangan dan keharmonisan dalam hidup. Ada juga gambar tembaga yang diartikan sebagai lokasi Wot Batu yang berada di Bukit Pakar dan dikelilingo 33 gunung.
Begitu banyak makna filosofis dari semua bentuk batu dan komposisi yang dibuat Sunaryo. Semuanya memiliki arti dan nilai yang hanya bisa diresapi saat kita berada didekatnya. Memaknai batu sebagai sarana kontemplasi diri juga memberikan perspektif lain yang berbeda – beda maknanya bagi setiap orang.
Aktualisasi Diri Melalui Karya Seni Kontemporer Batu

Sulit membayangkan para seniman menggunakan batu sebagai bentuk aktualiasi diri. Selain batu, marmer juga dijadikan media untuk menghasikan katya seni yang unik.
Melalui media marmer, seniman dapat mengkomunikasikan status, sejarah dan keragaman budaya.
Hanna Eshel, seniman batu marmer dari New York, Amerika Serikat merupakan salah satu ikonik artis di jamannya, di mana ia menggunakan marmer untuk menunjukan perbedaan kontur halus dan kasar pada batu.
Hasil karya Hanna Hasel mengingatkan kita pada kesederhanaan Ishomu Naguchi seorang Arsitek Landscape dan Seniman Kontemporer Jepang – Amerika yang berkarir dalam bidang seni sejak decade 1920-an
Jika ditanya apa yang membuatnya tertarik pada marble (marmer), Hanna Eshel akan menjawab “Marble keep me anchored’"(marble, tempat saya berlabuh)



Komentar